Now Reading
Indonesia Memiliki Ratusan Jenis Ular, Ahli Ungkap Cara Aman Hidup Damai dengan Reptil Beracun Ini

Indonesia Memiliki Ratusan Jenis Ular, Ahli Ungkap Cara Aman Hidup Damai dengan Reptil Beracun Ini

Avatar

Secara total, Indonesia memiliki 349 jenis ular dan 77 di antaranya berbisa, jangan sentuh ular, cukup usir agar tak ada membahayakan masyarakat. Seorang satpam di Gading Serpong meninggal akibat gigitan ular weling atau Bungarus candidus . Disampaikan oleh Amir Hamidy, peneliti ular dan reptil dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), konflik antara manusia dan Bungarus sebetulnya minim dan mayoritas bersifat accidental .

Pasalnya, ular dari marga Bungarus bersifat nocturnal atau beraktivitas pada malam hari, sedangkan manusia aktif pada siang hari. Meski demikian, kita tidak boleh lupa bahwa Indonesia memiliki banyak sekali jenis ular lainnya yang tidak kalah berbahaya. Malah, Amir berkata bahwa ular ular ini sudah ada duluan sebelum kita hidup di Indonesia.

Secara total, Indonesia memiliki 349 jenis ular dan 77 di antaranya, seperti Bungarus, kobra, cabai dan tanah, adalah ular yang berbisa. Dengan jumlah ular sebanyak itu, tentu manusia harus belajar untuk hidup damai dengan ular. Dalam upaya mencapainya, Amir menekankan pentingnya keamanan diri bila melihat ular, apalagi bila ular berwarna mencolok sehingga diduga berbisa.

Hal pertama yang harus diingat adalah jangan menyentuh ular sama sekali, kecuali Anda memang ada kepentingan, seperti harus mengoleksi spesimen tersebut karena sedang melakukan riset. "Biarkan ular itu diusir saja. Toh kalau diusir dengan alat sederhana pun juga pergi. Enggak perlu ditangkap," ujarnya ketika dihubungi via telepon oleh Kompas.com pada Sabtu (24/8/2019).

Kalau Anda harus menangkapnya, pastikan telah menggunakan grab stick atau hook stick sehingga tidak perlu menyentuhnya dengan tangan. Amir menceritakan kisah Profesor Joseph Bruno Slowinski, seorang ahli Bungarus yang meninggal di Myanmar karena digigit Bungarus multicinctus. Pada saat itu, Slowinski yang sedang meneliti ular salah memasukkan ular Bungarus yang sangat berbisa tersebut ke kantung ular yang tidak berbisa.

Pasalnya, ular ular yang tidak berbisa pun bisa memiliki penampakan yang mirip dengan Bungarus. "Ular ular (Bungarus) itu kan belang belang (dan) rata rata hitam putih. Ada ular lain yang enggak berbisa melakukan mimicry, jadi menyerupai jenis yang berbisa lain untuk bertahan hidup," kata Amir.

Cerita Slowinski ini menjadi bukti bahwa kita memang harus ekstra hati hati ketika bertemu dengan ular. "Orang yang profesional, seorang ahli herpetolog saja, bisa meninggal. Apalagi yang awam," ujar Amir. (Kompas.com/Shierine Wangsa Wibawa) Kesalahan fatal satpam di Serpong yang tewas digigit ular weling, isap bisa dijari kelingking justru sebabkan kematian.

Iskandar, seorang satpam di kawasan Serpon tewas setelah digigit ular weling ketika berusaha mengusirnya menggunakan sapu. Menurut keterangan saksi, Iskandar sempat digigit ular berbisa tersebut di jari kelingkingnya. Untuk menghindari penyebaran bisa di dalam tubuhnya, ia mengisap jari kelingkingnya.

Satpam di Serpong tewas setelah digigitular weling( Bungarus candidus ). Kasus ini adalah kejadian ke 40 kematian akibatgigitan ularpada tahun 2019. Satpam mulanya berusaha menangkap ular weling atas laporan warga dengan modal sapu.

Di tengah upaya menangkap, jari kelingking sang satpam tergigit. Satpam tetap menangkap ular dan memainkannya. Selang 30 menit, tepatnya pada Selasa (21/8/2019) pukul 19.30, Iskandar sang satpam mulai lemas.

Meski sempat dibawa ke rumah sakit, dia akhirnya meninggal. Musliman, komandan sekuriti Cluster Michelia Gading Serpong, mengatakan bahwa Iskandar sempat mengisap darah dari bagian yang digigit ular. nMaun ternyata nyawanya tak tertolong. Dokter dan ahli gigitan ular dari RS daha Husada Kediri, Jawa Timur, Tri Maharani mengatakan bahwa upaya mengisap darah dari bagian yang digigit ular weling adalah kesalahan besar.

"Bisa ular weling tidak menyebar lewat darah meskipun saat digigit darah kita keluar. Bisa menyebar lewat getah bening," ungkap Tri. Karenanya, Tri menegaskan bahwa upaya mengisap darah tidak akan mengeluarkan bisa ular yang telah masuk sedikit pun.

Dia mengungkapkan, keberhasilan penanganan gigitan ular yang beredar di media sosial hingga film dengan cara mengisap darah adalah mitos. "Sama seperti ada orang yang bilang pakai bawang untuk obati gigitan ular, atau pakai micin untuk obati. Itu semua mitos," jelasnya ketika dihubungi Kompas.com , Jumat (23/8/2019).

Pakar reptil dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amir Hamidy mengungkapkan, Iskandar sebenarnya memiliki kesempatan besar untuk sintas. "Pertama karena kita tahu pasti jenis ular yang menggigit. Ular weling. Itu sudah adaantivenom nya," ungkap Amir.

See Also

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan gigitan ular adalah identifikasi jenis yang menggigit. Pasalnya, kerap kali ular langsung lari setelah menggigit. "Dalam kasus satpam itu, karena satpamnya juga sempat memegang ularnya, kita sudah tahu pasti.

Jadi akan memudahkan penanganan sebenarnya," ungkapnya. Kematian Iskandar merupakan cermin kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang penanganan pertama korban gigitan ular. Korban harusnya berusaha bergerak sesedikit mungkin alias diimobilisasi dan dibawa ke rumah sakit setelah mengalami gigitan.

Tindakan menangkap ular dan memainkannya turut berkontribusi pada kegagalan penanganan. "Bisa dibayangkan gerakan sangat aktif saat menangkap dan memainkan ular. Itu mempercepat penyebaran bisa," kata Amir.

Tri menuturkan bahwa meskipun antibisa ular tidak tersedia, Iskandar sebenarnya tetap berpotensi besar untuk selamat. "Kita tidak selalu membutuhkan antibisa ular. Bisa ular dapat dilokalisasi dengan imobilisasi selama 24 48 jam," kata Tri.

Kasus gigitan ular, kata Tri, membutuhkan perhatian. Jumlah kasusnya hingga 135.000 per tahun, bersaing dengan HIV/AIDS dan kanker. "Ïni tandanya gigitan ular ini adalah penyakit yang harus diberi perhatian," katanya.

"Perlu edukasi tentang penanganan pertama yang tepat di sekolah, masyarakat, dan rumah sakit."

View Comments (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terradorap.com © Copyright 2019 - All Rights Reserved. Nikmati Hari dengan Informasi Terbaru.
Scroll To Top