Now Reading
Kubik Leadership Gelar Diskusi Hadapi Perubahan Era Disruptif

Kubik Leadership Gelar Diskusi Hadapi Perubahan Era Disruptif

Avatar

Kubik Leadership, lembaga training, coaching dan consulting meluncurkan produk terbaru untuk para leader agar lebih agile dalam menghadapi perubahan di era disruptif ini. Bertajuk “Embrace Your Brain to Become Agile Leader” selama dua hari, 11 12 April 2019 para leader dari berbagai perusahaan belajar bersama sekaligus berlatih menggunakan kemampuan otak yang sangat dahsyat potensinya agar mampu bersaing dan memenangkan kompetisi dan tetap bahagia menjalankan perannya. Dalam keterangan tertulis yang diterima dijelaskan, pada sesi pertama, Jamil Azzaini, CEO Kubik Leadership membuka sesi dengan menyampaikan serangkaian pertanyaan pada peserta mengenai apa saja kondisi yang dihadapi dalam pekerjaan dan kehidupan sehari hari.

Ternyata tantangannya sangat tinggi. Tidak hanya dari luar tapi juga internal perusahaan. Dari luar misalnya persaingan yang makin tajam, harga yang bergerak naik, digitalisasi yang menggantikan peran manusia dan ekspektasi pelanggan semakin tinggi, sementara manajemen tetap mengharuskan omset naik dan margin tetap besar. Padahal tim belum bisa di ajak bergerak lebih cepat. Kondisi ini bisa menimbulkan kelelahan dan stress jika tidak di kelola dengan baik.

Jamil mengingatkan, bisa jadi selama ini sebagai pemimpin kita belum memaksimalkan kemampuan otak dalam menyelesaikan masalah yang ada. Padahal faktanya otak memiliki lebih dari 100 piranti yang di dalamnya ada sel sel yang disebut neuron. Jika semua neuron tersambung akan menjadi 1.800 triliun sambungan dan memiliki potensi luar biasa yang bisa jadi tidak pernah terbayang sebelumnya oleh manusia. Salah satunya adalah bagaimana menjadi pemimpin yang lincah yang dapat menyesuaian kondisi dengan cepat, ditandai dengan emosi yang stabil, fleksibel melihat masalah dan menangkap peluang serta mengambil keputusan tepat dengan cepat.

Pada sesi kedua dan ketiga , dr. Amir Zuhdi, pakar Neuroscience semakin membuka wawasan peserta bagaimana memanfaatkan otak agar dapat mengelola dan mentransformasi emosi, sebagai langkah awal menjadi pemimpin yang agile. Bagian otak yang dibahas adalah Prefontal Cortex (PFC) dan Sistem Limbik. PFC cenderung berpikir rasional, mengandalkan logika. Sementara Sistem Limbik atau otak emosi cenderung emosional. Dengan mengenali 9 limbik panas dan bagaimana cara kerja PFC dan sistim limbik, peserta kini dapat lebih mudah mengendalikan emosi, tidak mudah terpancing dengan hal negatif yang tiba tiba hadir.

See Also

Bahkan pada saat saat genting sekalipun, peserta masih dapat berpikir tenang dan mengambil keputusan terbaik untuk jangka panjang organisasi. Dengan tools sederhana SLP (Smart Limbic Prevention) Dr Amir memandu peserta langkah demi langkah menerapkan proses Accept, Redefine, dan perolehan New Mindset. Di sesi berikutnya, Coach Aisya Yuhanida Noor mengajak peserta mengenali diri masing masing, apakah selama ini termasuk pemimpin yang fleksibel, yang mampu melihat kemungkinan kemungkinan dan menghadirkan alternatif baru atau malah cenderung kaku, rigid dan tidak mau berubah sama sekali. Coach Aisya mengingatkan, bagi pemimpin yang kaku, selain hidupnya dipenuhi dengan kesulitan juga berdampak buruk pada kesehatan. Pemimpin yang kaku pun tidak disukai tim, rekan kerja dan lingkungan, untuk itu segeralah lakukan intervensi pada otak, dan bagian otak yang berperan untuk fleksibel adalah Gyrus Cingulatus.

Coach Aisya menyampaikan bagaimana cara kerja Cingulatus melalui permainan sederhana yang menarik sehingga peserta dapat memahami dengan mudah. Selain itu beliau pun memberikan tips yang dapat dipraktekkan di kehidupan sehari hari agar peserta semakin fleksibel. Di hari kedua, asisten coach, Warsono Hadi Mulyono, Personal Quality Trainer,yang juga memandu peserta dari hari pertama memastikan seluruh peserta memahami semua materi yang telah di sampaikan melalui pertanyaan singkat dan tes sederhana dengan digital, sebelum masuk ke sesi berikutnya yaitu bagaimana mengambil keputusan dengan tepat dan cepat. Ternyata banyak pemimpin yang ragu dan tidak berani mengambil keputusan, bisa jadi karena adanya pertimbangan personal (Self Interest), emosi yang mempengaruhi pengambilan keputusan (Emotional Attachment), dan memori masa lalu yang keliru dan cenderung menghambat otak (Misleading Memory). Dokter Amir kemudian menjelaskan apa yang terjadi pada otak dalam proses memilih dan memutuskan yang berkaitan dengan Hot & Cool System.

View Comments (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Terradorap.com © Copyright 2019 - All Rights Reserved. Nikmati Hari dengan Informasi Terbaru.
Scroll To Top